Minggu, 26 Mei 2013

seni bagian dari strategi dakwah



Wali Songo, kita mengingat strategi dakwah yang dilakukan oleh sunan Kali Jaga dengan menggunakan wayang. Beliau menjadi dalang dalam memainkan wayang bertujuan untuk mendakwahkan Islam ditanah Jawa, salah satu strategi inilah yang mampu mengubah atau penyebaran agama Islam ditanah jawa begitu pesat. Pada kala itu masyarakat Jawa menganut paham atau beragama Hindhu dan Budha.
            Wayang adalah salah satu kesenian kekayaan Indonesia yang berasal dari tanah Jawa, ternyata wayang tidak berhenti pada masa Sunan saja, sampai saat ini masih dibudayakan dan dilestarikan oleh anak bangsa dengan bermunculan dalang- dalang tenar seperti: Ki Anom Soroto, Ki Mantep Sudarsono, dan masih banyak lagi. Wayang kulit dan sinden serta gamelan adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan karena saling berperan aktif dalam pementasan. Dalang-dalang terkenal biasanya menciptakan lagu atau gending yang bertujuan beragam.
Salah satunya lagu yang bersifat islami dan mengajak kita untuk menegakkan syariat Islam. Lagu yang berjudul “PEPELING”, ciptaan Ki Anom Suroto.
Wis wancine tansah dielingke (sudah waktunya diingatkan)
Wis wancine podo nindak ake (sudah waktunya pada mengerjakan)
Adzan wis kumandhang wayahe sembahyang (Adzan sudah dikumandangkan             waktunya sholat)
Netepi wajib dawuhing pangeran (menjalankan wajib perintah Allah)
Sholat dadi cagak ing agama (sholat jadi tiangnya agama)
Limang wektu tansah dijogo (lima waktu harus dijaga)
Kanthi istiqomah lan sing tumakninah (dengan istiqoman dan yang tumakninah)
Luwih sampurno yen berjama’ah (lebih sempurna jika berjama’ah)
Subhuh Luhur lan Ashar (Shubuh, Dzhuhur dan Ashar)
Sholat sayekti ngadohke tindak mungkar (sholat mampu menjauhkan tindakan mungkar)
Magrib lan ‘Isya’ jangkepe (Magrib dan ‘Isya’)
Prayogane ditambah sholat sunate (kemudian dengan sholat sunah)
Jo sembrono kui perintah agomo (jangan sembarangan, itu perintah agama)
Ngelingono neng ndonyo mung sedelo (ingatlah didunia cuma sebentar)
Sabar lan tawakal pasrah sing kuoso (sabar dan tawakal berserah kepada yang berkuasa “Allah”)
Yen kepengen mbesok munggah suargo. (jika ingin masuk surga)

Lagu diatas hanya salah satu contoh lagu yang mempunyai nilai tinggi untuk berdakwah. Sebenarnya lagu-lagu mocopat pun banyak yang sebenarnya diciptakan oleh para wali yang sampai saat ini lagu-lagu itu masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar