Wali Songo, kita mengingat strategi dakwah yang dilakukan oleh
sunan Kali Jaga dengan menggunakan wayang. Beliau menjadi dalang dalam
memainkan wayang bertujuan untuk mendakwahkan Islam ditanah Jawa, salah satu
strategi inilah yang mampu mengubah atau penyebaran agama Islam ditanah jawa
begitu pesat. Pada kala itu masyarakat Jawa menganut paham atau beragama Hindhu
dan Budha.
Wayang adalah salah satu kesenian
kekayaan Indonesia yang berasal dari tanah Jawa, ternyata wayang tidak berhenti
pada masa Sunan saja, sampai saat ini masih dibudayakan dan dilestarikan oleh
anak bangsa dengan bermunculan dalang- dalang tenar seperti: Ki Anom Soroto, Ki
Mantep Sudarsono, dan masih banyak lagi. Wayang kulit dan sinden serta gamelan
adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan karena saling berperan aktif
dalam pementasan. Dalang-dalang terkenal biasanya menciptakan lagu atau gending
yang bertujuan beragam.
Salah
satunya lagu yang bersifat islami dan mengajak kita untuk menegakkan syariat
Islam. Lagu yang berjudul “PEPELING”, ciptaan Ki Anom Suroto.
Wis
wancine tansah dielingke (sudah waktunya diingatkan)
Wis
wancine podo nindak ake (sudah waktunya pada mengerjakan)
Adzan
wis kumandhang wayahe sembahyang (Adzan sudah dikumandangkan waktunya sholat)
Netepi
wajib dawuhing pangeran (menjalankan wajib perintah Allah)
Sholat
dadi cagak ing agama (sholat jadi tiangnya agama)
Limang
wektu tansah dijogo (lima waktu harus dijaga)
Kanthi
istiqomah lan sing tumakninah (dengan istiqoman dan yang tumakninah)
Luwih
sampurno yen berjama’ah (lebih sempurna jika berjama’ah)
Subhuh
Luhur lan Ashar (Shubuh, Dzhuhur dan Ashar)
Sholat
sayekti ngadohke tindak mungkar (sholat mampu menjauhkan tindakan mungkar)
Magrib
lan ‘Isya’ jangkepe (Magrib dan ‘Isya’)
Prayogane
ditambah sholat sunate (kemudian dengan sholat sunah)
Jo
sembrono kui perintah agomo (jangan sembarangan, itu perintah agama)
Ngelingono
neng ndonyo mung sedelo (ingatlah didunia cuma sebentar)
Sabar
lan tawakal pasrah sing kuoso (sabar dan tawakal berserah kepada yang berkuasa “Allah”)
Yen
kepengen mbesok munggah suargo. (jika ingin masuk surga)
Lagu diatas hanya salah satu contoh lagu yang mempunyai nilai
tinggi untuk berdakwah. Sebenarnya lagu-lagu mocopat pun banyak yang sebenarnya
diciptakan oleh para wali yang sampai saat ini lagu-lagu itu masih dilestarikan
oleh masyarakat Jawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar